Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

Definisi Sastra Bandingan

Definisi Sastra Bandingan
Sastra Bandingan

1.             Definisi

Dalam kamus Webster dikemukakan bahwa sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra yang lain.
Rene Wellek dan Austin Warren mendefinisikan tiga pengertian dari sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya, disini istilah sastra bandingan dipakai untuk studi sastra lisan. Terutama cerita-cerita rakyat dan migrasinya, serta bagaimana dan kapan cerita rakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik. Sastra lisan pada dasarnya merupakan bagian integral dari sastra tulis.
Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, diantaranya soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyuran karya besar, atau dengan kata lain istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Pendekatan ini dipelopori ilmuwan Perancis, yang disebut comparatistes, digagas oleh Ferdinand Baldensperger, yang diulas yaitu soal reputasi, pengaruh, dan ketenaran Goethe di Perancis dan Inggris.
Aspek yang dipelajari antara lain:
  (a)   citra dan konsep pengarang dan pada waktu tertentu,
  (b)   faktor penerjemahan,
  (c)    faktor penerimaan (receiving factor),
  (d)   suasana dan situasi sastra pada masa tertentu.

Dan yang Ketiga, penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal. Istilah sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh. Istilah sastra dunia menyiratkan bahwa yang dipelajari adalah sastra lima benua, mulai dari Selandia Baru sampai Islandia. Sastra umum mempelajari gerakan dan aliran sastra yang melampaui batas nasional. Konsepsi sastra universal melihat bahwa sastra tetap perlu dilihat sebagai suatu totalitas.

Sedangkan, Remak mengungkapkan bahwa “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain”, dengan kata lain sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih lanjut Remak menekankan, bahwa perbandingan antara karya sastra dan bidang di luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat dipisahkan dan mempunyai pertalian logis.

Lain halnya dengan Maman S. Mahayana, menurutnya Membandingkan dua karya sastra atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda, termasuk wilayah kajian sastra bandingan. Karya sastra yang dibandingkan, setidaknya mempunyai tiga perbedaan, mencakup: (a) Bahasa, (b) Wilayah, (c) Idiologi/politik. Dengan melihat perbedaan antara dua karya sastra sebagai bahan perbandingan akan memungkinkan munculnya “perbedaan latar belakang sosial budaya”. Latar sosial budaya, seperti lokasi, tradisi, dan pengaruh       melingkupi diri masing-masing pengarang. Kondisi tersebut akan tercermin dalam karya yang dihasilkan. (1)

Sehingga, pengertian sastra bandingan jika ingin disimpulkan secara sederhana yaitu perbandingan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya. Terlepas apakah karya sastra yang diperbandingkan itu sastra dunia, sastra umum dan sastra universal dengan tujuan untuk mencari perbedaan, persamaan atau kesatuan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya.

2.             Sekilas Sejarah Sastra Bandingan
Istilah sastra bandingan kali pertama muncul di negara Inggris yang dipelopori oleh para pemikir Perancis seperti Fernand Baldensperger, Jean-Marie Carre’, Paul van Tieghem, dan Marius-Francois Guyard. Mereka ini dalam ilmu sastra bandingan akhirnya lebih dikenal sebagai pelopor aliran Perancis atau aliran lama (Hutomo, 1993: 1). Pada perkembangan selanjutnya, sastra bandingan ini juga berkembang di Amerika, mengembangkan konsep-konsep sastra bandingan aliran Perancis, sehingga sastra bandingan aliran Amerika ini disebut sebagai aliran baru (Hutomo, 1993: 1).
Aliran Perancis sebagai aliran lama berpendapat bahwa sastra bandingan adalah pembandingan sastra secara sistematik dari dua negara yang berlainan (Hutomo, 1993: 1). Sedangkan aliran Amerika berpandangan lebih luas. Aliran Amerika tidak hanya membandingkan dua karya sastra dari dua negara yang berlainan, tetapi juga membandingkan sastra dengan bidang ilmu atau seni tertentu (Hutomo, 1993: 3). Oleh aliran Perancis hal tersebut tidak disetujui. Namun dalam praktiknya ternyata aliran Perancis juga melaksanakan konsep aliran Amerika (Hutomo, 1993: 4). (2)
Aliran Prancis menurut Clements dikatakan sebagai aliran yang hanya membandingkan hanya unsur intrinsik dua buah karya sastra atau lebih yang segenre. Sedangkan aliran Amerika menurut Remark juga merupakan aliran yang membandingkan dua buah karya sastra atau lebih yang segenre. Hanya saja bidang yang dibandingkan tidak hanya unsur intrinsik karya sastra tersebut, tetapi dikaitkan juga dengan bidang ilmu yang lain seperti filsafat, sosiologi, politik, agama, budaya, dan sebagainya. (3)

3.             Objek kajian Sastra Bandingan
Objek kajian Sastra Bandingan menurut Suripan Sadi Hutomo (1990: 9-11) adalah sebagai berikut:
1.          Membandingkan dua karya sastra dari dua Negara yang bahasanya benar-benar berbeda.
2.          Membandingkan dari dua Negara yang berbeda dalam bahasa yang sama. Dalam situasi yang benar-benar sama atau dalam dialek yang berbeda Misalnya: novel “Salina” karya  A. Samad Said (Malaysia) dengan novel “Puncak Pertama” karya Muslim Burmat (Brunei).
3.          Membandingkan karya awal seorang pengarang di Negara asalnya dengan karya setelah berpindah kewarganegaraannya. Misalnya: NH Dini, Hati yang Damai (sewaktu WNI) dengan Pada Sebuah Kapal (WN Perancis).
4.          Membandingkan karya seorang pengarang yang telah menjadi warga suatu Negara tertentu dengan karya seorang pengarang dari Negara lain.
5.          Membandingkan karya seorang pengarang Indonesia dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Misalnya, Ajip Rosidi (Sunda --- Indonesia).
6.          Membandingkan dua karya sastra dari dua orang pengarang berwarga Negara Indonesia yang menulis dalam bahasa asing yang berbeda.
7.          Membandingkan karya sastra seorang pengarang yang berwarga Negara asing di suatu Negara dengan karya pengarang dari Negara yang ditinggalinya (kedua karya sastra ini ditulis dalam bahasa yang sama). (2)

4.             Praktik Sastra Bandingan
Pada umumnya jika kita melihat praktik sastra bandingan baik di negara Timur maupun di negara Barat, studi sastra bandingan menurut Hutomo (1993: 11-12) melandaskan diri pada 3 hal yaitu:
1.               Afinitas, yaitu keterkaitan unsur-unsur intrinsik (unsur dalaman) karya sastra, misalnya unsur struktur, gaya, tema, mood (suasana yang terkandung dalam karya sastra) dan lain-lain, yang dijadikan bahan penulisan karya sastra.
2.               Tradisi, yaitu unsure yang berkaitan dengan kesejarahan penciptaan karya sastra.
3.               Pengaruh. (2)



5.             Konsep Pengaruh dalam Sastra Bandingan
Istilah pengaruh tidak sama dengan istilah menjiplak dan plagiat. Untuk melaksanakan studi pengaruh, barangkali, ada baiknya jika kita menyempatkan diri memahami teori intertekstualitas.
A.          Teori Intertekstualitas
Menurut Julia Kristeva (dalam Hutomo, 1993: 13-14), teori intertekstualitas mempunyai kaidah dan prinsip sebagai berikut:
1.          Pada hakikatnya sebuah teks itu mengandung berbagai teks.
2.          Studi intertekstualitas itu adalah menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik teks.
3.          Studi intertekstualitas itu mempelajari keseimbangan antara unsur intrinsik dan ekstrinsik teks yang disesuaikan dengan fungsi teks di masyarakat.
4.          Dalam kaitan dengan proses kreatif pengarang, kehadiran sebuah teks itu sebenarnya merupakan hasil yang diperoleh dari teks-teks lain.
5.          Dalam kaitan studi intertekstualitas, pengertian teks (sastra) janganlah ditafsirkan terbatas pada bahan sastra, tetapi harus mencakup seluruh unsur teks, termasuk bahasa.

B.           Hipogram
Hipogram adalah unsur cerita (baik berupa ide, kalimat, ungkapan, peristiwa, dll) yang terdapat di dalam suatu teks sastra pendahulu yang kemudian dijadikan model, acuan, atau latar teks yang lahir kemudian (teks sastra yang dipengaruhinya) (Hutomo, 1993:14). Jika menggunakan teori interteks harus memahami makna hipogram. Menurut Rifaterre (dalam Hutomo, 1993: 14) hipogram dapat berupa:
1.      Ekspansi, yakni perluasan atau pengembangan hipogram.
2.      Konversi, yakni berupa pemutarbalikan hipogram.
3.      Modifikasi, yakni manipulasi kata dan kalimat atau manipulasi tokoh dan plot cerita.
4.      Ekserp , yakni intisari dari hipogram. (2)

Daftar Pustaka
(1)        MASALAH DALAM PRAKTIK STUDI SASTRA BANDINGAN » MAHAYANA-MAHADEWA.COM.htm
(2)        Jendela sastra: media sastra indonesia/sejarah-dan-teori-sastra-bandingan.htm
(3)        keranjang « Manusiabatu’s Blog.htm

»»  Bacas Selengkapnya...

Selasa, 10 Juli 2012

Apakah Pidgin dan kreol ?


Pidgin dan kreol bahasa pada dasarnya bahasa baru berasal dari kombinasi dua atau lebih bahasa. Karena ini adalah bahasa baru, kosa kata mereka dan tata bahasa seringkali tergolong sederhana dan belum sempurna di alam.

Pidgin
Bahasa pidgin berkembang ketika dua penutur asli kelompok bahasa yang berbeda mencoba untuk membuat sarana komunikasi. Kosakata ini terutama berasal dari salah satu bahasa dan tidak memiliki seperangkat aturan tata bahasa stabil, terutama pada tahap awal pengembangan.


Creole
Creole bahasa berkembang ketika bahasa pidgin menjadi bahasa asli bagi masyarakat dan anak-anak mulai belajar sebagai bahasa pertama mereka. Meskipun sebagian besar berasal dari kosa kata bahasa lain, telah mengembangkan set yang unik aturan tata bahasa.


Sejarah
Kebanyakan pidgin dan kreol bahasa berkembang sebagai akibat dari ekspansi kolonial Eropa antara 1500 dan 1900. Akibatnya, banyak pidgin dan kreol bahasa didasarkan pada bahasa Inggris, Spanyol dan Perancis.

Contoh Pidgin
Contoh bahasa pidgin Pidgin termasuk Nigeria, Russenorsk, sebuah pidgin Rusia dan Norwegia, dan Fanagalo, sebuah pidgin Afrika Selatan. Pidgin Hawaii telah berkembang menjadi apa yang banyak ahli bahasa menyebut sekarang sebagai Hawaii Creole bahasa Inggris, meskipun masih banyak pembicara menyebutnya sebagai Pidgin Hawaii.

Contoh Creole
Contoh bahasa kreol termasuk Haitian Creole, bahasa berbasis Prancis; Jamaika Creole Inggris; Hawaii Creole Inggris; Angolar Portugis Creole, dan Bislama, bahasa Inggris berbasis nasional Vanuatu.
»»  Bacas Selengkapnya...

Pidgin dan Creole


Pidgin dan Creole
a. Pidgin

Pidgin adalah bahasa yang berkembang sebagai alat komunikasi antara dua kelompok orang yang belum mempunyai bahasa yang umum. Bahasa ini merupakan penyederhanaan dari dua bahasa atau lebih. Bahasa pidgin tidak mempunyai penutur asli (native speaker). Bahasa ini terbentuk secara alami di dalam suatu kontak sosial yang terjadi antara sejumlah penutur yang masing-masing memiliki bahasa ibu. Bahasa pidgin cenderung mencampuradukkan kosa kata, bunyi, dan bentuk-bentuk gramatikal dari kedua bahasa.

Bahasa pidgin terbentuk ketika pengguna suatu bahasa terlibat dalam suatu pedagangan dengan pengguna bahasa lain. Penggunaan bahasa pidgin juga bisa terjadi di suatu perkebunan yang dikepalai oleh pengguna bahasa lain atau orang asing (bukan pemakai bahasa setempat) dan tidak satupun dari kedua pemakai bahasa (pekerja dan pengawas) mengerti bahasa masing-masing.

Dalam setting perkebunan, fungsi lain bahasa pidgin adalah untuk memudahkan para pekerja untuk berkomunikasi satu sama lain, karena para pekerja perkebunan itu tidak berbicara dalam bahasa yang sama. Bahasa pidgin juga bisa terjadi di kota-kota pelabuhan tempat bertemunya pedagang dan pelaut dari berbagai bangsa yang mempunyai bahasa ibu yang berbeda.

Bahasa pidgin juga bisa terbentuk karena adanya penjajahan. Misalnya pada bahasa pidgin Karibia. Karena pulau-pulau tropis dijajah, masyarakatnya direstrukturisasi, yaitu minoritas beberapa bangsa Eropa sebagai penguasa dan sejumlah besar orang-orang non-Eropa sebagai buruh. Para buruh itu, baik penduduk asli ataupun budak, biasanya datang dari kelompok yang berbahasa berbeda dan perlu berkomunikasi sehingga muncullah bahasa pidgin.

Karena bahasa pidgin terbentuk sebagai bahasa campuran dan hanya digunakan sebagai alat komunikasi di antara mereka yang berbahasa ibu berbeda itu, bahasa pidgin tidak memiliki standardisasi, otonomi, historisitas, dan vitalitas.

Contoh bahasa pidgin english di Papua New Guinea:

“Bipo tru igat wanpela liklik meri nau nem bilong em Liklik Retpela Hat.” (‘A long time ago, there was a little girl named Little Red Riding Hood.’)

b. Creole

Creole pada awalnya adalah orang keturunan Eropa yang lahir dan dibesarkan di suatu koloni tropis. Creole adalah bahasa pidgin yang struktur dan kosa katanya telah diperluas serta telah memiliki fungsi-fungsi yang diperlukan untuk menjadi bahasa pertama.

Jika bahasa pidgin sudah cukup lama digunakan, bahasa pidgin menjadi lebih kaya kosa kata dan strukturnya menjadi lebih kompleks, dan kemudian menjadi bahasa creole. Bahasa creole mengembangkan cara-cara untuk menandakan makna seperti bentuk waktu pada kata kerja, infleksi maupun afiks. Bahasa creole juga sudah mempunyai penutur asli.

Kebanyakan bahasa creole adalah bahasa yang berasal dari bahasa Eropa, misalnya kosa kata yang diambil dari satu atau lebih bahasa Eropa, seperti bahasa Inggris, Portugis, Spanyol, Prancis, dan Belanda. Bahasa creole Inggris dan Prancis adalah yang paling umum di New World. Bahasa creole Spanyol, Belanda, dan Portugis sangat umum di tempat lain dan bahasa ini penting dalam perkembangan seluruh bahasa creole (bahasa creole Spanyol di Filipina, bahasa creole Portugis di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur)

Contoh bahasa pidgin yang telah menjadi bahasa creole dapat dilihat pada tabel berikut:


Tok Pisin
English
Tok Pisin
English
Bik
Big, large
Bikim
To enlarge, to make large
Brait
Wide
Braitim
To make wide, widen
Daun
Low
Daunim
To lower
Nogut
Bad
Nogutim
To spoil, damage
Pret
Afraid
Pretim
To frighten, scare


Jika bahasa creole telah bekembang, ia dapat berfungsi secara politis, pendidikan, kesusastraan, administrasi, dan lain-lain. Bahasa creole bisa menjadi bahasa standar, bahasa nasional, maupun bahasa resmi, misalnya Tok Pisin yang menjadi bahasa resmi di Papua New Guinea.

Dalam masyarakat dengan pembagian sosial yang masih kaku, bahasa creole bisa tetap menduduki fungsi L, di samping bahasa H yang resmi disetujui, misalnya pada bahasa diglosia Haiti. Jika bahasa creole digunakan bersama bahasa standar dalam suatu masyarakat di mana rintangan sosialnya (social barrier) bisa diatasi, bentuk-bentuk bahasa creole cenderung berubah berdasarkan bahaasa standar itu. Proses ini disebut decreolisasi. Pada akhirnya, akan ada rangkaian kesatuan (continuum) ragam antara bahasa standar dan bahasa creole. Hal ini dikenal dengan nama post-creole continuum. Contohnya bisa ditemukan di Jamaica dan Guyana.

Referensi:
Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fasold, Ralph. 1990. The Sociolinguistics of Language. Oxford: Basil Blackwell
Holmes, Janet. 1992. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Longman.
»»  Bacas Selengkapnya...